Aku Cinta Skripsi dan/atau TKA

Wednesday, May 03, 2006

Ketika Skripsi Itu Tak Kunjung Nampak

Pembimbing nihil, revisi ulang belum juga jadi, sementara tenggat waktu sudah ada di depan mata. Apa yang bisa dilakukan? Dalam kasus saya: ya, pasrah. Selain itu, rajin melihat-lihat klasika KOMPAS di lowongan karir. Siapa tahu ada pekerjaan yang tidak membutuhkan pengalaman lima tahun dan tidak di bidang keuangan dan manajemen. Saking rajinnya, saya sampai memperhatikan bahwa ada beberapa perusahaan yang, entah tidak laku, entah memang membutuhkan orang sangat banyak, saking seringnya perusahaan itu beriklan. Yang akhir-akhir ini sering muncul adalah PH untuk produksi sinetron (Dbthkan 10 P/W utk sntron kjr tyg lgsg syuting.Hub … ), supervisor untuk perusahaan America Co dan konsultan gizi. Guru bahasa juga banyak dibutuhkan, terutama bahasa mandarin dan inggris, baik untuk sekolah, bimbingan belajar maupun kursus bahasa. Begitu pula dengan guru Pre-School dan guru musik.

Saya, yang, EHM, merasa punya kemampuan dalam bahasa Inggris suatu hari iseng melamar ke bimbingan belajar Primagama. Mereka rupanya membuka beberapa cabang baru, dan salah satunya di Buaran; dekat dari rumah saya. Kualifikasi yang mereka butuhkan: tidak lebih dari 30 th, mahasiswa minimum semester 3, dari PTN terkemuka. Hmmm… bagaimana saya tidak percaya diri? Usia masih tiga tahun jauhnya dari seperempat abad. Semester? Tentunya DELAPAN. PTN terkemuka? BOOO… kalau tempat saya kuliah sekarang tidak terkemuka, itu keterlaluan namanya. Sekali lagi, saya jadi PD. Karena itu, saya melamar. Saat sedang membuat surat lamaran, saya menemukan dua lagi kualifikasi yang luput saya perhatikan sebelumnya: 1) pengalaman dan 2) suka dunia pendidikan.

Saya sempat terdiam sebentar. Pengalaman? Nol. Suka dunia pendidikan? Nggak tahu deh, belum pernah mencoba tuh. Tetapi, namanya juga usaha. Peduli amat dengan pengalaman. Siasat punya siasat, akhirnya saya menyombongkan diri dengan mencantumkan nilai kelulusan bahasa Inggris saya di SMA (cukup baik untuk disombongkan, kok), dengan harapan akan menutupi minimnya pengalaman saya. Selain itu, saya juga bilang “ingin membagikan pengetahuan saya” dan “tertarik pada dunia pendidikan”. Iya,saya tahu: HOEKH-CUIHH. Jilat abissss kayak samaliujung. Jelas-jelas saya cuma pengen DUIT. Tiga minggu berlalu sudah, dan saya pikir lamaran saya akan lewat begitu saja. Saya pun kembali asyik mencermati iklan baris KOMPAS (lama-lama jadi suka beneran, bukan karena mau cari kerjaan, hehe). Tak dinyana tak disangka, sore tadi seorang mas-mas berlogat sunda menelepon ke rumah. Ia dari Primagama, dan saya dipanggil untuk tes tertulis pada hari kamis, pukul 10.00. seketika saya jadi deg-degan. Saya kan sudah lupa pelajaran sekolah!!!!!! Otak ini berkarat sejadi-jadinya! Mudah-mudahan saja tesnya hanya bahasa Inggris! Kalo ngga bisa dikira pake joki untuk masuk universitas terkemuka ini!!! Deg-degan kedua adalah kalau saya diminta mengajar anak SD. Mak! Adik saya anak SD dan tiap kali ngajar dia yang ada saya mendadak gila dan kepingin mengikat adik saya ke papan tulis!!

Ya udahlah. Seru juga kali kalau sekelas itu saya ikat semua.

Oya. Semoga gajinya memadai.

Friday, April 28, 2006

Keluar dari Mulut Buaya, Masuk ke ....???

Pfiuuuhhh……seandainya jika lulus, kita semua mahasiswa komunikasi 2002 bisa bernafas lega… Bernafas seperti menghirup udara pagi nan segar di Puncak gunung, mengalami tenang dan damai seolah melihat hamparan lembah rimbun yang hijau, terbuai oleh irama gemericik air sungai yang dingin dan bening, sambil menikmati teh hangat dan membaca novel kesayangan di atas hemok. Sungguh bagi saya itulah surga dunia!
Maksud lu apa sih biar_lambat_asal_selamat? Ngompor-ngomporin supaya naik gunung!!!
Bukan-bukan, maksud saya itu adalah perumpamaan sebuah situasi ketika saya merasa ”pfiuuuuhh, akhirnya masalah udah selesai, sekarang tiba saatnya bersenang-senang menikmati jerih payah.”

Masih belum nyambung? Ya memang, saya belum menyambungkan benang merahnya. Begini: bagi saya, mungkin bagi sebagian kita (mungkin RNA-bukan saudara DNA- tidak termasuk sebagian kita, atau saudara Veradiza juga? ) menganggap skripsi/TKA adalah puncak masalah yang paling kompleks selama kita di dunia kampus (kedua setelah prasar sepertinya). Paling kompleks sehingga selama menyelesaikannya kita menganggap diri kita masing-masing adalah pejuang-pejuang intelektual selayaknya pejuang perang, yang ketika selesai bertempur dan memenangkan peperangan, kita wajib diberikan medali dan disantuni seumur hidupnya. Sayangnya, kita pejuang intelektual tidak.

Setelah memenangkan pertempuran di garis depan, dan diberi medali penghargaan, kita masih harus berpikir :
“Terus, apa yang harus saya lakukan sekarang???”
Ya, semakin saya memikirkan ini, semakin saya malas menyentuh komputer dan memperbaiki outline saya.
Siapalah saya? yang ketika lulus pun tidak memiliki pengalaman di dunia komas, sehingga saya pantas untuk dinantikan menjadi anchor sebuah TV swasta???
Siapalah saya? yang walaupun suka jalan-jalan, tapi tinggi tidak sampai 160cm dan berkulit tidak kuning langsat? Sehingga niat menjadi seperti Riyanni Djangkaru pun tak akan pernah sampai!
Siapalah saya? yang hanya bisa 2 bahasa; bahasa Indonesia dan bahasa Betawi... sehingga ketika menghadapi interview kerja berbahasa Inggris, pastilah si pewawancara segera memerintahkan saya lebih baik berbahasa Betawi saja!!!
Dan siapalah saya? seorang junior yang sangat tidak pernah mencoba berbasa-basi dengan senior di kampus, padahal sejak jaman Maba saya telah didoktrin bahwa senior adalah pintu menuju dunia kerja nantinya, makanya kenalilah seniormu (dengan kata lain : minta tanda tangannya!)
Saya sadar, saya bukan siapa-siapa juga bukan apa-apa...
Ketika lulus, saya mesti bagaimana? setelah saya keluar dari mulut buaya, saya harus kemana? Saya menangis meraung-raung, menyesali semua yang bisa disesali.

Begitulah, lagi-lagi saya membenarkan diri. Saya memang harus lebih lama di kampus, agar lebih matang, lebih berisi, lebih kuat tempaan, dan lebih lain2nya.
Walaupun masih banyak orang yang bilang, “anak UI mah nggak susah-susah amat dapat kerjanya!” Ya, saya mahfum. Tapi bukan berarti saya mesti mendapatkan 3 pekerjaan yang paling saya hina selama menjadi kaum intelektual. Most Avoided JOBS are:

  1. Presenter GOSIIIPPP!! : Oh God, Pliss deh... semua presenter gosip mana ada lagi yang punya hati, punya nurani! Masa pas hari nikahan anak seorang Ibu dari keluarga besar C, si presenter dengan teganya menanyakan “gimana kasus perselingkuhan suaminya dengan artis mantan sinden asal Purwokerto?!”
  2. Pekerja berseragam coklat-coklat: ehm...kalo yang ini bukannya menganggap ini adalah pekerjaan tanpa nurani, tapi sungguh bila saya memakai seragam coklat-coklat saya akan merasa sebagai pegawai pecinta kerumitan yang tak berbobot dan tak memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Seolah-olah sarjana sosial dari FISIP UI saya menguap seketika. Gimana nggak, saya sendiri merasakan.
    BLAS : Bisa dengan Pak N? saya mau follow up surat ijin kegiatan untuk hari Jumat (hari itu hari Kamis).
    PBCC : Bla...bla...bla... (menanyakan no.surat, kegiatan apa, dari mana,
    dsb) Ooo... udah sampai di lt.5 tuh mbak. telpon aja ke ******.
    BLAS : Pak saya mau follow up surat ijin kegiatan. Suratnya sudah masuk
    Dari Selasa. No. suratnya...(pembicaraan saya dipotong)
    PBCC2 : Ya..ya..kalau suratnya sudah masuk hari selasa brarti sudah turun. Kamu langsung aja datang kesini. Datang kesitu pak? tapi kemarin katanya tinggal telpon Pak *** ini aja. nggak perlu datang.
    PBCC2 : Iya, tapi suratnya sudah masuk jadi kamu langsung datang saja ya. (ngomong terburu-buru)
    BLAS : baru saja saya mau bilang...”pak, tapi rumah saya jauh di depok, bisa lewat telpon aja nggak? Disaat saya berpikir
    tuuut..tuuut...(telpon langsung ditutup)

    Keesokan harinya
    BLAS : Pak, bisa bicara dengan Pak ***?
    PBCC3 : Mau tanya surat ya?
    BLAS : Iya. Acaranya tar sore..bla...
    PBCC3 : No. suratnya?
    BLAS : ..bla..bla...
    PBCC3 : Kopnya?
    BLAS : Ma...bla...bla...
    PBCC3 : Yaaah....komputernya mati... Tar lagi deh nelpon agak sorean...
    (saya nelpon pagi)
    BLAS : Gilaaa...acara gue tar sore tau!!! (dalam hati)

    3. Sales! : Oke, saya dari jurusan komunikasi, yang seharusnya tahu bagaimana cara komunikasi efektif dan komunikasi pemasaran terpadu. Tapi, untuk yang ini saya merasa punya bakat minus untuk jadi sales.

    Jadi begitulah... saya tidak tahu akan kemana. Walaupun maunya ke puncak gunung yang dingin dan hijau... Sial! Malas membuat saya menahan hak prerogatif menentukan mau kemana dan mau jadi apa? masuk ke mulut harimau atau ke mulut beruang? Binguuung...ya sudah saya jadi mahasiswa saja dulu!

    (ditulis oleh biar_lambat_asal_selamat)

Wednesday, April 26, 2006

tai ah

[Tulisan ini sekedar untuk menunjukkan, bahwa saya, Veradiza, juga bagian dari mahasiswa yang memandang skripsi/tka adalah suatu goncangan yang dahsyat dalam kehidupan kampusnya.]


Hanya satu yang ingin saya lakukan sekarang ini : menangis. Bagaimana mungkin saya bisa maju ke bab 4 kalo kuesioner saya hanya sedikit yang terisi. Sial. Bagaimana saya bisa mengolah data yang saya dapat kalo N alias sampel yang saya pakai cuma segelintir.

Ayah dan kakak saya bisa saja dengan gampangnya bilang : ‘ya udah, kasihin ke karyawan2 aja’. Yearite! Itu berarti saya harus mengganti mulai dari bab2. sekali lagi bab2! Saya harus mengulang hampir semua pertanyaan di dalam kuesioner yang mana bahasa yang saya gunakan di kuesioner tersebut udah SMA banget gayanya. Kalo kuesionernya dirubah, it means berarti saya harus menghabiskan uang orangtua saya untuk kesekian kalinya untuk fotokopi. Saya gak tau apa yang harus saya lakukan sekarang ini. Saya cuma ingin nangis. Berharap semua beban itu ikut larut bersama airmata. Sayangnya beban adalah beban, airmata ya airmata. bukan air dengan gula, bukan juga air dan minyak (meskipun airmata sama2 zat cair sih).


Mungkin pembaca sekalian kesal sama saya. udah dapet pembimbing pilihan, kok masih aja ngeluh2 gini. ya sudah, saya terima. tetapi saya punya hak untuk berbagi kan? siapa tau bisa jadi pelajaran buat yang lain. Setiap orang ada jatah cobaannya masing-masing. Mungkin sampai saat ini saya tidak merasakan bagaimana rese’ nya bimbingan. Kenapa? Karena Tuhan menjatahkan saya untuk merasakan betapa nyebelinnya responden saya [Masih sma aja belagu betul!]. Jadi, saya doakan kalo yang mesti berpahit-pahit bimbingan semoga pas turlapnya lancar….amiieeen.


Ke mana lagi saya bisa cerita?
Apakah saya bisa lulus semester ini?

...dan saya pun masih menunggu

Semua orang di blog ini selalu bilang betapa beruntungnya saya memiliki pembimbing yang so far so good. Pendapat mereka itu disampaikan entah dengan nada sirik atau turut berbahagia, saya tidak tahu. Saya sadar bahwa besar kepala itu sungguh sangat dilarang karena takabur itu bisa menjadi bumerang buat manusia. Saya tidak pernah bermaksud untuk takabur. Saya hanya ingin bersyukur. Meskipun saya harus berganti2 pasangan dalam hal menemani-saya-ke-sma2 (karena tidak ada pacar yg setia menemani tentunya!) tetapi saya dianugerahi pembimbing yang—meminjam istilah biar_lambat_asal_selamat—seromantis DNH. Tuhan memang Maha Adil kan?!

Keadilan Tuhan sungguh terasa di saat2 seperti ini. Saat semua orang tampaknya disulitkan oleh pembimbing, saya Alhamdulillah, sejauh ini, tidak demikian. Tetapi apakah berarti kehidupan skripsi saya semulus itu? Tentu tidak. Karena Tuhan Maha Adil. Saat ini saya tengah dilanda kegundahan yang luar biasa. Anak2 SMA yang menjadi target sampel saya pada ujian semua. Oh tidaaakk!!!! Bagaimana caranya saya bisa turlap?. Kenapa sih birokrasi itu berbelit2?! Seandainya surat ijin dari jurusan jadi dalam sekedip, seandainya ijin dari SMA juga berejakulasi dini maka saya kan tidak harus dihadapkan pada kenyataan bahwa pas giliran saya mau turlap...eh anak2 SMA itu sedang ujian!

Oh Tuhan…


Saya juga heran, kenapa saya terlalu idealis. Apakah ini pengaruh pembimbing saya yang konon terbaik se-asia tenggara itu? Jadi timbul perasaan khawatir jika hasil penelitian saya tidak memuaskan. Padahal pembimbing saya tidak menuntut banyak. Atau memang saya yang perfeksionis untuk mengikuti semua prosedur yang ada? Kenapa tidak terbersit di pikiran dan hati saya untuk memanipulasi saja data2 itu? Yang penting saya bisa lulus.

Kenapa…

Friday, April 21, 2006

Dan Misteri Itu Pun Terkuak...

akhirnya... akhirnya saya tahu kenapa kontributor blog ini, yang percaya diri memakai nama aslinya (nama lengkap, lagi!), TIDAK PERNAH SATU KALI PUN menulis di sini. ternyata ia SIBUK DENGAN TKA-NYA, SAUDARA-SAUDARA! TKA-NYA NYARIS RAMPUNG! IA SIAP MENINGGALKAN KITA SEMUA! bayangkan, di saat banyak orang malah mengetik untuk blog ketika seharusnya mengetik untuk skripsi/tka, anak ini malah mengetik untuk TKA ketika seharusnya mengetik untuk blog. ck ck ck. berani-beraninya lagi nggak mengajukan pengunduran diri di blog khusus orang-orang desperate ini. dasar. sudah, sekarang kamu tidak bisa lagi sembunyi! topengmu sudah terbuka! wajah aslimu sudah terlihat, wahai penulis serigala berbulu domba!

maka itu, saya ucapkan selamat datang dengan sangat hangat bagi saudara Veradiza-bukan-nama-depan-memang-nama-KTP. semoga, saudara Veradiza bisa memberikan sumbangan yang jauh lebih berarti. saya yakin akan hal itu. sebelum jadi member pun sudah aktif, apalagi sekarang. awas kamu, ya, kalau mangkir lalu tiba-tiba sudah pakai toga. nanti saya buang toga kamu ke danau. bilang sama Pak DNH, supaya santai saja kalau kasih bimbingan. sekali lagi, selamat datang!

*oh ya, numpang promosi dikit: ada acara jalan-jalan ke air terjun di CIBEREUM, RABU TGL 26 APRIL 2006. berangkat dari FISIP (jam: tanya cut). TIDAK menginap. harga sekitar 50rb, bila lebih dikembalikan. yang perlu dibawa:
- baju yang nyaman, jeans agak kurang rekomen. boleh panjang/pendek/tanktop/short. cuma biar ga item, yang panjang ajah asik. terserah lah
- kaos&celana ganti, siapa tau mau main air
- topi
-kacamata item
-sunblock
-sepatu/sendal gunung
-kamera (terserah)
-air secukupnya (1.5l paling nggak)
-snack dan makan siang dari rumah
[ooo pantes 50rb pake dikembaliin. ndak dapet makan siang, tho? aer juga mbawa sendiri, tho? ::angguk-angguk::]
keterangan lebih lanjut silakan hubungi saudara cut_ihamil, yang lagi beneran cut_i tapi nggak hamil, ke situgunung. kemarin2 gue sms sih nyampe, dan dia bales. LOH? KE GUNUNG APA LEMBAH, SIH? yah, mungkin di gunungnya ada pemancar. ya sudah.

Sunday, April 16, 2006

"Mungkin karena saya memang tidak mampu."

Kalimat di atas muncul di baris-baris akhir sebuah artikel yang dimuat di harian KOMPAS pada hari Sabtu tanggal 15 April 2006. Konteks lengkapnya adalah tanggapan seseorang yang diprofilkan keahliannya oleh KOMPAS, terhadap kesetiaannya untuk terus menDEDYkasikan diri kepada sebuah tempat di bilangan Salemba. Kalimat di atas, juga, terlampau membumi. Karena, ia diucapkan oleh orang sekaliber DNH, tokoh yang sering muncul dalam berbagai tulisan di blog ini.

Sekitar pukul 10 pagi hari Sabtu kemarin, ketika mata saya masih memejam, dan kepala ini agak sakit akibat capek menghitung uang monopoli, telepon rumah berdering. Untuk saya, ternyata. Dari seberang sana, warhol berteriak histeris, “UDAH LIAT KOMPAS BELOM?! LO MUSTI BACA YA, HALAMAN LIMA DI BAWAH POLITIK DAN HUKUM! LO MUSTI LIAT ADA SIAPA!”. Siapa? Ya, ternyata bapak DNH itu. Segera, saya membaca artikelnya. Segera pula, kepala saya terasa makin pening. Artikel yang dimaksud berupa hasil wawancara dengan bapak DNH mengenai politik media atau yang semacamnya (maaf apabila salah, karena saya sedang tidak memegang artikelnya sekarang). Saya semakin pening karena: 1. artikel macam demikian tidak cocok buat orang yang baru bangun 2. apalagi kalau bangun dengan kepala pusing akibat main monopoli sampai tengah malam 3. kalaupun tidak baru bangun dan/atau tidak baru bangun sehabis main monopoli malam sebelumnya, artikel itu tidak cocok buat orang awam yang bisanya cuma “hah-heh-hoh” saja sepanjang membaca. Bayangkan, dalam artikel itu pak DNH entah berapa kali menyebut kata seperti “triangulasi” dan “civil society”. Satu-satunya model “triangulasi” yang saya tahu cuma cinta segitiga, dan pak DNH jelas tidak bicara tentang itu. (sangat mungkin saya akan menyajikan daftar singkat kata-kata yang paling banyak diucapkan pak DNH. tunggu saja). Artikel tersebut juga memuat foto pak DNH, diambil dari balik kaca yang basah akibat hujan. Romantis. DNH (tidak mengejutkan) terlihat persis seperti yang sudah saya deskripsikan di halaman “daftar nama dan istilah”, sampai kepada pakaiannya.

Yah, akhir kata, meski satu-satunya bagian yang saya pahami dari artikel itu adalah bagian riwayat hidup singkat pak DNH, tetapi saya tetap merasa bangga, karena pernah menjadi murid pak DNH. Pasti ini yang dimaksud dengan istilah “kedekatan” dalam kuliah jurnalistik. Karena saya merasa “dekat” dengan beliau, artikel itu menjadi lebih bermakna bagi saya. Pikiran saya langsung melesat kepada saudara Veradiza. Ia ‘kan, anak bimbingan pak DNH. Pastilah ia merasa tidak hanya bangga tapi juga terharu. Sah sudah, pembimbingnya memang yang paling T.O.P.B.G.T (bacanya dieja, kayak anak ABG). Saya saja ingin mengkliping artikel itu, apalagi Veradiza. Bisa-bisa fotonya digunting, diperbesar lalu dipajang di kamar, dan isi artikel itu sudah dihafal olehnya. Atau jangan-jangan kamu sebetulnya ada di belakang pak DNH ketika difoto, tetapi dipotong dengan teknologi rekayasa foto? Tidak apa, Veradiza, akui saja. Saya dan para pembaca mengerti kok. Ya, Veradiza, ya?

DISCLAIMER: tulisan ini tidak ditujukan pada orang yang bener2 campus-fetish
Misterinya ada di willpower. Lebih tepatnya adalah do power
Duh! SEPERTI semua masalah harus dicari solusinya

-Tentang metafora yang buruk-
Begini. Semua orang punya masalah, dan menulis di sini. Menulis memberikan healing power. Orang menulis dan berusaha lucu di sini (atau semua tragedy memang ditakdirkan menjadi komedi terbaik..). Karena selera humor orang memirip ketika mereka hidup berdampingan terlalu lama. kalau orang lain mengatakan kita garing… Lantas…apa yang bisa kita ubah? Acuhkan saja orang yang bilang kita garing (karena memperbaiki selera humor…butuh satu dekade)

-Metafora dan skripsi-
Sama halnya dengan skripsi. Semua orang individual dan makhluk sosial pada saat yang bersamaan. Semua orang punya masalahnya masing2. Dan selera tema skripsinya masing-masing. Lucunya…elu lah yang paling tahu isi skripsi apa. Tapi… Yang ironis, orang lain merasa paling tahu kesalahan lu apa
Krikk…krikkk….
Kali ini pun lu tidak bisa mengalihkan perhatian karena dosen lu yang bilang begitu. Dan dari mana kita karungin willpower dan motipasi itu??? Kalau kita percaya bahwa skripsi adalah ingus yang mengalir dalam tubuh kita: Lendir-lendir yang kalah karena virus memaksa keluar dari tubuh; Itulah skripsi.
Bukan bagian penting dalam organ hidup kita. Bagian yang harus kita paksa keluar. Karena toh…sperti ingus…dia menyebalkan, mengganggu, dan Cuma bagian kecil
Hidup masih panjang (kalau kita berumur panjang). Seberapa sering kita mengeluh kalau kita ingin melakukan hal lain?. Selain kuliah? (dalam definisi gue kuliah adalah mencela kuliah, bertemu teman dan berbagi link…kalau link eksis…). Ini adalah ucapan dari orang yang sering dicap omong besar. Praktik kurang. Jadi….Sudahi. Sudahi mengasihani diri sendiri (biar ga dibilang egois). Kita harus mengasihani orang lain (biar dibilang ga egois)
Gue mendengar banyak rumor yang penuh dengan aura negatif (dan itu dari tempat bernama J dan aktor bernama Doz). Pesimisme jelas amat boleh, asal kita tetap mengerjakan sesuatu
Ini jika membuat lu bisa merasa lebih baik dibandingkan gue:
1. gue belum mengetik bab Satu
2. revisi online gue (percayalah..saking gue ga familier sama yang namanya skripsi, gue sering menukarnya dengan…outline) gue yakin belum mereka baca
3. gue belum dapat pembimbing
4. gue belum wawancara siapa pun
5. gue baru punya di tangan gue: skripsi terevisi 16 hlm (plus judul dll= 18)
6. sekarang 13 April
7. deadline 16 juni (siapa yang ulang tahun tanggal segitu pasti akan punya mimpi buruk sepanjang hidupnya)
8. TINGGAL DUA BULAN LAGI dan….hal buruk apa pun bisa terjadi
9. dan kalian YANG MEMUTUSKAN UNTUK belum sidang outline: ITU PILIHAN KALIAN SENDIRI DAN GA ADA SALAHNYA
Tapi… Gue enggan kuliah selama hayat, seumur hidup, di Uni XXX. Rasa harus bangun…mandi…naik kereta yang ga mengizinkan lu merasa aman. Menunggu…menunggu kapan gue bisa menjalankan semua rencana lain… CUKUP sudah… Bak Glen yang (MUNGKIN) CUKUP sudah dalam petualangan cintanya dan serius dengan Dewi Sandra… (ini ga konsisten nih…antara garing atau sok serius) gue memutuskan CUKUP SUDAH menghabiskan uang orang tua gue. gue janji pada diri sendiri untuk tidak merepotkan…betapa mereka merasa gue adalah kutu yang tidak bertanggung jawab dan pemalas… cukup sudah…orang lain bisa lulus 3stengah tahun dengan IP yang bisa dikibar2kan… gue empat tahun dan harus merebut gue punya FRS/DNS/IRS??? Supaya orang lain ga lihat nilai gue…

Gue tahu sebagian kalian: kalian lebih suka kuliah, kalian lebih suka tanda tangan bukti kehadiran, kalian punya catatan, kalian bahkan sempat berbicara dengan dosen…
kalian pernah suka kampus… (kembarsiamita kembar bukan sembarangan, kami tidak suka kuliah dari awal kami masuk). Dari awal gue memutuskan untuk ga perlu banting tulang untuk IP bagus, Gue ingin membuktikan bahwa manusia hidup tidak hanya dengan roti (dan IP) saja. Gue Cuma mau punya gelar dan TAMAT….TITIK….dari kampus (bukan tercinta). Jadi yang gue butuhkan adalah keluar. Keluar… Keluar dan pergi ke mana kaki gue mau.. Ke mana hati gue meminta, Dan ga ada orang yang berhak mengatur gue lagi harus ke mana.. Kalian semua yang diujung sana: DUA BULAN ADALAH WAKTU YANG PANJANG Dua bulan adalah 86.400 menit
5.184.000 detik. laler punya waktu hidup Cuma tiga hari. Kita menyaksikan minimal 20 generasi laler turun temurun dalam proses menamatkan skripsi/TKA kita…

Jadi…. Jangan pernah percaya MAKHLUK APAPUN, termasuk diri lu sendiri bahwa lu ga bisa tamat semester ini. Kalian, tiap diri kalian, pintar. Cukup pintar untuk bisa tamat semester ini.
Pura-puralah merasa pintar (sperti gue) biar kalian semakin merasa bisa tamat semester ini.
Sampai ketemu…di balairung yang panas (dan tidak….kali ini kita tidak dapat roti gratis apalagi emblem OKK).

Salam, kembarsiamita 1/2 [yang pendek. kembarsiamita1/2, saya kira kamu bisa menggantikan Anand Khrisna!]

BIROKRASI SIALAN!! -Akhir Sebuah Penantian-

[Layaknya film-film holywood yang bersequel-presequelan, saya pun membuat sekuel tulisannya jeng Juwita Sirik.]

Memang birokrasi itu nyebelin!SIAAALLLAAAANNNN!!!
Cerita ini bermula saat saya mengikuti-atas (kalo diinggrisin : follow up) SMA swasta Islam ALZR di Jakarta Selatan yang (katanya diknas) unggulan di wilayahnya. Saya menyerahkan surat permohonan ijin untuk menyebar kuesioner demi kepentingan skeripsi kepada bapak guru yang berkepentingan hari jumat kemarin. Kemudian timbullah percakapan diantara kami :
Bapak guru : “Ok, suratnya dibaca dulu ya, hari Sabtu kamu telepon aja ke
nomor ***0159”
Saya : “Oh, Sabtu sekolah ini tetap masuk Pak?” (ptanyaan ini saya ajukan mengingat menjamurnya sekolah2 yg libur di hari saptu bak pegawai negeri)
Bapak Guru : “Oh kami tetap sekolah kok di hari Sabtu”
Ok lah kalau begitu, saya akan hubungi si Bapak Guru itu hari sabtu.
Hari sabtu yang dinanti2 tiba, hati saya berdebur2 kayak mau kencan pertama (padahal kencan pertama aja saya ga tau gimana rasanya, maaph curhat colongan). Setelah nada dering yang kesekian akhirnya tu telepon SMA ALZR diangkat juga, saya pun bertanya “Selamat siang pak, bisa bicara dengan Bapak Guru?”
Yang di sana pun menjawab : “Oh…Bapak Guru -nya tidak masuk”
Yearite!!! SMA ALZR tetap masuk di hari sabtu, tapi yang masuk cuma muridnya doang, gurunya mah jangan ditanya! Saya hanya bisa menelan ludah. Rasa deg2an yang tadi merayap di hati saya sudah terhempas ke dasar lautan. Sial.

Jadilah saya harus menunggu munculnya hari Selasa, karena hari Seninnya tanggal merah (saya mau protes sama pemerintah: kenapa di saat urusan genting begini tanggal merahnya banyak banget plus sering?!kenapa gak dulu2 pas jaman kuliah masih penuh?!!dasar pemerintah pilih kasih). Hari selasa tiba, surat ijin saya belum disetujui juga. Hari Rabu saya coba telepon lagi jadilah si bapak guru malah ngajak ngobrol saya, dia bertanya :
Bapak Guru : “ Kamu kuliah dimana sih?”
Saya : “ Di PTN yang ada di daerah Jakarta-Coret-Tapi-Luar-
Kota-Masih-Belom-Jauh Pak”
(dih si Bapak Guru gimana sih, jelas2 di surat permohonan ijin saya ada kop fakultas segede-gede gaban plus makara warna oren genjreng,masa masih nanya saya anak mana?! ketauan banget pak kalo surat saya belom di sentuh!!)
Bapak Guru : “Ooh…kalo gitu kamu kenal...ng…Pak Oman ga?”
Saya : “Pak Oman siapa pak?” (ih emangnya saya kayak Samali Ujung yang sohiban sama semua dosen?!)
Bapak Guru : “Itu…yang rektor itu…”
Saya : “Oh, namanya Pak U*ma* pak, bukan pak Oman”
Bapak Guru : “Eh, dekan deh kayaknya…”
Saya : “Ng…Dekannya namanya Pak *umilar pak, bukan Pak
Oman”
Bapak Guru : “Ah, masa?!”
Saya : “…ng…” (perasaan saya yang kuliah koq situ yang sewot yak?!, harusnya saya bilang gini ya : ‘Pak kalo gak percaya, tanya aja sama temen saya Samali Ujung, dia lebih akrab dibandingkan mahasiswa manapun juga’)
Beberapa saat kemudian sampailah saya pada pertanyaan apakah-surat-ijin-saya-disetujui-pak…si Bapak Guru pun menyahut “Eh masih di meja bapak kepala sekolah, besok siang kamu telepon lagi ya”
DAMN!!!MAKDIRABIT-MAKDIRABAT!!!

Tak sabar menunggu sampai Kamis siang. Setibanya di kampus saya langsung menuju wartel, menghubungi si Bapak Guru untuk kesekian kalinya. Anda penasaran? Saya juga! Tidak ada lagi basabasi dari si Bapak Guru, dia menjawab dengan singkat, padat, dan jelas :
“Maaf, hasil keputusan rapat tadi, kami tidak bisa memenuhi permohonan ijin saudara, para siswa sedang sibuk soalnya”
OH TUHAAAANNNNNN!!!!!
Sontak dengkul saya langsung lemes, selain gak punya uang receh untuk bayar wartel (karena saya pikir Bapak Guru bakal ngemeng panjang lebar, jadi saya gak nyiapin receh), jawaban si Bapak Guru tadi memberikan indikasi bahwa saya harus mencari SMA swasta Islam unggulan peringkat 2 di Jakarta Selatan. Hal itu berarti saya harus buat surat ijin lagi ke jurusan, harus menunggu (sukur2) 3 hari lagi baru jadi (itu gak termasuk dipotong libur tanggal merah untk ketiga kalinya dalam 2minggu terakhir), harus menyisihkan waktu untuk remehtemeh lagi dengan SMA selanjutnya!
Oohhh tidaaakkkkk!!!! Pak DNH, ingin rasanya saya berlari meraih anda di Salemba dan menumpahkan kekesalan saya.
Pembaca yang budiman, anda sekalian pasti heran. Inti dari tulisan ini kan Cuma penolakan dari penantian birokrasi yang lama itu bukan?! Tetapi kenapa saya menceritakan begitu luas dan dalam? Bodo amat! Seperti visi misi birokrasi : ‘Kalau bisa dibuat ribet buat apa dijadiin gampang, kalo bisa dilama-lamain buat apa dicepet-cepetin’ , saya pun berprinsip : Kalo bisa dibuat detail, buat apa disingkat-singkat’, namanya juga birokrasi.
Sialangsat kamu birokrasi!

Thursday, April 13, 2006

Skripsi, hanyalah sebuah permainan pikiran

Salam berbahagia bagi kita semua
Terutama yang sedang dalam proses pengerjaan skripsi/tugas karya akhirnya. semangat selalu!

Ya, skripsi/tka memang salah satu bagian dari fase hidup yang harus dihadapi dengan sukacita. Meski keberadaannya bagai mata pisau. Di satu sisi terkadang menyulitkan, namun di sisi lain ia adalah suatu bagian berharga dalam kehidupan mereka yang sedang/pernah berstatus mahasiswa.

Kata ‘menyulitkan’,mungkin agak perlu direnungi bersama. Apa itu ‘menyulitkan’? Adakah ia merupakan sesuatu yang nyata, atau ia hanyalah pernyataan yang keluar dari pikiran kita? Bahwa sebenarnya ‘menyulitkan’ dalam pengerjaan skripsi itu tidak ada. Dia tidak nyata. Pikiran atawa sudut pandang kita sahajalah yang membawanya demikian
Contoh kasus: seorang anak batita (bayi berusia dibawah tiga tahun)mencoba untuk mengambil sebuah boneka kesayangannya. boneka tersebut diletakkan di meja yang agak tinggi,sulit untuk dijangkau oleh si batita yang belum bisa sama sekali berdiri itu. Si batita pun mencoba untuk meraih boneka. Gagal. Sekali lagi mencoba, belum juga berhasil. Ia pun berpikir (meski masih batita... ia pasti mengalami proses berpikir bukan?) mencoba bangun dengan cara yang lain. Ia harus menjadi lebih tinggi, demikian pikirnya. Dalam bahasa orang dewasa, ia harus mengangkat kedua kakinya untuk berada dalam keadaan berdiri agar setidaknya ia berada dalam posisi yang lebih mempermudah jangkauan tangan. Si batita pun mencoba ‘metoda’ baru tersebut. Sekali, dua kali, tiga kali,empat kali, lima kali, enam kali dalam masa yang sama... gagal. batita pun menangis. Sang ibu datang menghampiri, dan boneka pun diambilkan dari meja kepada si batita [bahasa kalbu bo! Batita nggak perlu ngomong apa2, sang ibu sudah mengerti]

Mungkin coba kita ambil kasus lain. Si Fulan [bukan nama sebenarnya] adalah seorang mahasiswa baru sebuah kampus ternama di wilayah depok.Di kampus yang berinisial UI itu, ia berstatus sebagai mahasiswa fakultas ISIP dengan jurusan K. Masuk jurusan K adalah sesuatu yang prestisius, sebab K diketahui sebagai jurusan yang berkualitas ;) Seiring dinamika kehidupan di kampus,secara akademi ia belajar berbagai mata kuliah secara bertahap. Mulai dari pengantar hingga mata kuliah dengan kategorisasi high skill, seperti: statistika, berbagai Metode Penelitian, Riset K/I/H, Kajian-kajian, hingga Seminar.Waktu pun terus bergulir. Tiga setengah tahun sudah si Fulan berada di kampus.Ia sekarang adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi. Skripsi, mungkin bisa disimpulkan sebagai bentuk ‘praktek’ mengerjakan sebuah karya ilmiah sebagai ‘bukti’ pengaktualisasian diri sebagai seorang mahasiswa jurusan K konsentrasi: KK, spesifiknya: KM.Nyatanya sudah masuk bulan yang mana 2 bulan kurang lagi adalah deadline akhir pengumpulan itu skripsi, Fulan belum mengalami kemajuan berarti. Masih saja ia stak pada bab 2-nya.

Apa yang dialami Fulan hingga ia berada dalam kondisi demikian? Bukankah selama ini ia sudah dibekali dengan berbagai ilmu, teori, metode dan segala tetek bengeknya itu dari dosen-dosen di kampus? Berbagai bentuk perpustakaan [mulai dari perpustakaan pusat, perpustakaan berbagai jurusan hingga fakultas] yang menjadi salah satu sumber ilmu sudah menjamur selama ia menjadi mahasiswa baru di kampus. Teknologi internet sebagai alternatif sumber ilmu/informasi pun sudah sedari dahulu bisa ia gunakan. Supposed to be Fulan akan baik-baik saja dalam mengerjakan skripsinya.Outline, hingga bab 1 pendahuluan, bab 2 kerangka teori, bab 3 metodologi sampai daftar pustaka, sudah barang seharusnya dapat dilalui dengan lancar (selancar jalan tol menuju depok yang jarang sekali mengalami hambatan).

Mari kita coba berpikir kritis di sini.Apakah kedua contoh kasus di atas berada dalam keadaan ‘kesulitan’? Batita yang tidak pernah berdiri sebelumnya, mencoba untuk melakukan hal tersebut. Selama berkali-kali ia mencoba, namun gagal. Hingga akhirnya ia hanya bisa menangis. Dalam hal ini, batita melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Ya, ia kesulitan melakukannya. Bagaimana dengan kasus fulan? Ia sudah mendapatkan berbagai macam bekal sebelumnya untuk mengerjakan itu yang bernama skripsi. Namun hingga masuk waktu sebentar lagi deadline, mengapa belum juga selesai? Ia kesulitan? Entah apapun alasannya, coba mari kita tanyakan pada Fulan mengapa hal ini bisa terjadi. [Coba, kepada anda yang merasa bernama/adalah fulan yang sebenarnya,share pengalaman anda kepada kami semua disini. Jadi bisa kita tahu apa yang sebenarnya terjadi. siapa tahu masalah bisa diselesaikan bersama]

Penulis membawa dua contoh kasus di atas untuk mencoba mengajak berpikir, tentang bahwa segala sesuatu bersumber pada diri kita sendiri. Self! Merupakan bagian penentu segala sesuatunya terhadap apa yang sedang dihadapi. Tentang kata ‘sulit’ saja dulu. Ketika saya bilang itu ‘sulit’,maka ia pasti akan menjadi ‘sulit’. Saya sudah membatasi kerja otak dan kemampuan diri untuk mengerjakan sesuatu. Saya sudah mem-frame bahwa pekerjaan itu adalah tidak bisa dilakukan, dengan saya belum/sudah mempunyai pengalaman itu. Fulan, apakah ia sudah mencoba mengerjakan skripsinya? Hingga itu skripsi bisa selesai tepat waktu dan ia bisa lulus sebagai mahasiswa.apa yang menjadi hambatan sebenarnya bagi Fulan? Bahan yang sulit didapat? Kerangka berpikir yang tidak pasti? Tidak jelas permasalahmnya dimana? Apakah Fulan sudah memahami hal tersebut?

Batita, mungkin ia merasa –dalam arti yang sebenarnya– kesulitan. Tapi hei, dia tidak tahu terma kata ‘kesulitan’. Jadi mungkin ia belum mem-frame dirinya dengan pikiran: bahwa ia belum pernah melakukan hal tersebut, pasti kegiatan berdiri akan jadi sesuatu yang menyulitkan [hey, dia juga pastinya tidak tahu bahwa yang ia lakukan itu disebut sebagai berdiri]. Yang si batita lakukan hanyalah mencoba, coba, dan terus mencoba. Hingga kemudian mengalami kegagalan dan pun akhirnya menangis saja, toh itu mungkin menjadi bagian pelajaran bagi batita.Beberapa hari kemudian, tahukah anda semua bahwa si batita telah mencoba lagi untuk berdiri. Batita sekarang sudah berdiri. [selamat ya adik batita :D] Ia kini sudah duduk di bangku Taman Kanak-Kanak dan memiliki prestasi yang baik. Dan ia pun hidup bahagia selama-lamanya...

Terkadang mungkin juga kita harus melakukan proses berpikir seperti sudut pandang adik batita. Bahwa tak ada satu pun yang tak bisa dilakukan. Dengan kata lain, tidak membatasi kemampuan diri. Apapun bisa dilakukan, asal dengan usaha [dan juga berdoa ]. Percaya pada kemampuan diri. Dan ketika memang ternyata diri kita belum mampu melakukannya, toh kita bisa mencoba untuk melakukan pada akhirnya. dengan terus mencari, belajar,mencoba, mendalami hingga akhirnya keluar kata ‘bisa’. Kita punya kemampuan itu teman!

Jadi, adakah persoalan kesulitan dalam mengerjakan skripsi datangnya dari pikiran dan diri kita sendiri? Hanya kita yang tahu. Bagaimana penyelesaian, berapa lama diselesaikan, akankah diselesaikan, setiap orang tentu akan berbeda-beda.Kita sendirilah yang tahu apa yang baik sebenarnya bagi diri kita. Hanya, jangan pernah menyerah pada apa yang dihadapi. Pada dasarnya kita semua mengalami proses belajar. Skripsi belum selesai hingga semester 8, ya nggak papa... masih ada semester 9. kita toh kan belajar dari ‘kegagalan’ itu. Gagal di semester 9, masih ada semester 10. dan demikian seterusnya. Gagal juga hingga semester akhir, ya... mungkin kita masih harus lebih banyak belajar dan mencoba lebih baik lagi. Drop out kuliah, jangan sampai sih. Tapi kalau memang itu yang terjadi, mungkin memang jalan kita bukan sebagai sarjana :D

Sedikit berbicara tentang kegagalan. Pada acara penganugerahan bagi mahasiswa-mahasiswa berprestasi di suatu fakultas di kampus ‘ui’.Si salah satu puncak penghargaan, seorang teman menjadi nominator mahasiswa berprestasi di fakultasnya. Ketika diumumkan ternyata ia tidak keluar sebagai juara 1, Ia hanya menjadi juara 3. Hal ini membuatnya sedih dan merasa gagal.Namun seorang teman lain menenangkannya dan berkata: “yaaaa sudahlah yaaa... kegagalan itu cuma keberhasilan yang tertunda. Keberhasilan yang tertunda untuk 2 menit laaaah!”.Acara selanjutnya adalah pengumuman penghargaan bintang kampus [nama penghargaannya: bintang fisip –inisial fakulitas]. Teman saya itu pun menjadi salah satu nominasinya. Ketika pengumuman pemenang, inisial nama HF disebutkan. Itu adalah nama teman saya! Benar kan kata teman yang satu lagi. Bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda [dua menit dalam cerita ini].

Ini juga mungkin soal usaha, seberapa besar sudah usaha yang dilakukan. Dan berkait dengan apa yang kita inginkan sebenarnya dalam kehidupan.Kalau kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, uhm... coba liat temen yang lain aja, siapa tahu jadi termotivasi. Akhirnya jadi tahu apa yang dimaui dalam hidup ini. Pada dasarnya, lagi-lagi, kita semua selalu mengalami proses belajar untuk mencapai segala kebaikan dalam kehidupan ini.Alangkah baik jika kita sama-sama belajar dan saling mengingatkan jika ada salah satu yang melenceng.
Sukses dan semangat selalu bagi kita semua!Untuk skripsi/tka/apapun yang dihadapi. Semoga apapun yang terjadi pada kehidupan adalah terbaik yang diberikan Tuhan pada kita. Coba jalani, terima apa adanya, dan hadapi saja :D
-------------------------------------------------------------------------------------------
Sebuah renungan untuk kita semua:
hidup adalah soal keberanian, menghadapi tanda tanya. Tanpa kita pernah tahu, tanpa kita pernah mengerti. Terima dan hadapilah
Dan hidup adalah memang perjuangan tanpa henti-henti.

-------------------------------------------------------------------------------------------
#penulis adalah seorang mahasiswa semester 8 yang juga sedang berskripsi ria. Adakah ia merasa kesulitan dalam menjalaninya, itu mungkin persoalan ‘game of mind’.Doakan agar ia selalu dalam kebaikan. (hmmm kenapa sih, para penyumbang tulisan tidak menyerahkan saja deskripsi dirinya kepada tukangskripsi18? takut apa ssihh? hmm? takut apa, coba? takut diginiin: 'penulis' adalah orang yang juga ikut menulis tulisan keroyokan. nickname-nya di sana adalah cut_ihamil. hmm? apa takut digituin? nggak kaann...)

Akankah ku punya pembimbing?

(sebelum menulis panjang lebar, saya ingin menangis tersedu terlebih dahulu: Huhuhu....huwaaaaaaa!!!!. terima kasih.)

“Ngapain aja lo di rumah? Membusuk ya?” begitu pertanyaan – yang dijawab sendiri dengan benar – teman saya, si mulut cabai E, ketika saya meneleponnya beberapa hari lalu. Yah. Betul sekali, E, saya sedang MEMBUSUK. Mungkin lain kali kamu melihat saya, saya akan sudah berbentuk pupuk dibungkus rapi dengan karung goni. Bagaimana tidak? Kebanyakan hari saya luntang-lantung tidak jelas; cari bahan skripsi tidak, coba-coba mengetik apalagi. Alasan saya selalu: tidak punya pembimbing, sih, jadi nggak tahu deh, musti ngapain!

Alasan tersebut lebih dari sekedar alasan. Ia adalah realita! Wahai teman-teman yang merasa merana karena sekeripsi-nya nggak maju-maju, nih saya kasih tahu keadaan buruk saya supaya kamu semua merasa lebih baik: saya masih belum punya pembimbing!! Puasss. Kemarin saya menanyakan nasib saya kepada Mbak Y di jurusan. Dan apa yang saya dapat? Pastinya tidak ada, hanya sebilah pisau menancap makin dalam di dada. Mbak Y tidak hanya menyatakan bahwa pembimbing saya belum ada, tetapi ia juga: salah mengira saya dengan orang lain (saya dikira Yv. Coba itu. Yv kan pake jilbab, mbak! Apa rambut saya ini mirip jilbab?! Dan lagi Yv udah ADA pembimbing, mbak! HOI!!) dan salah ingat siapa dosen penguji saya (“kamu kemarin sama Mas A, ya?” saya jawab dengan BT: “bukan Mbak, saya sama Mbak K” – dengan nada sengit yang halusss sekali). Pantessss pembimbing nggak dapet-dapet...

Saya kemudian keluar jurusan dengan hati dongkol, lalu hinggap di Takor. Di sana saya bertemu dengan salah satu dari kembarsiamita (yang pendek, yang suka keluar negeri nggak bilang-bilang, yang saking anehnya sampe ngambil mata kuliah pedesaan punya jurusan antrop), sedang mengutak-atik komputer pangku-nya yang bermerek Apple. Anak ini juga belum dapat pembimbing, tapi coba simak apa yang dikatakannya sebagai tanggapan dari keluh kesah saya: “aahhh gue ga peduli ama pembimbing! DAS [senior, sudah lulus dengan gemilang. Idola anak ini] aja bimbingan sama Bang A cuma atu kali!”. Lantas dia meneruskan aksinya di depan komputer. Cuih, sok sibuk kamu.
Teman-teman, bagaimana kalau kita buka taruhan untuk salah satu dari kembarsiamita ini? Taruhannya tentu soal dia lulus/tidak lulus tanpa pembimbing. Kalau dia lulus, ayo kita patungan beli sesuatu buat dia. Kalau dia tidak lulus kita ceplokin telor+tepung+fanta yang sudah diludahi kayak anak SD ulang tahun. Karena, asal tahu aja, anak ini mentargetkan lulus semester ini, dengan atau tanpa pembimbing. Cih. Kita lihat saja nanti.

(oya, terima kasih untuk semua tulisan yang sudah dimasukkan ke blog ini. Satu yang ingin saya tanya, ke mana sih retnadi nur aini? Jadi kontributor kok nggak nulis? Sibuk ya bikin TKA? Kalau iya, kamu tidak layak berada di sini, retnadi! – siriknya keluar).

Tuesday, April 11, 2006

Ulah Tirani Seorang Kajur

Hilang sudah harapan saya untuk bisa segera keluar dari kampus tidak tercinta dan menjadi orang bebas secara utuh. Dua minggu lalu adalah waktu dimana saya harus memilih : Skripsi atau Bersenang-senang. Dan tebak saudara-saudara apa yang saya pilih. Ya tepat, Tentu saja bersenang-senang!

Kebetulan UKM yang saya geluti, MUI (bukan Majelis Ulama Indonesia) mengadakan kegiatan Bakti sosial yang sangat terpuji. MUI memberikan bantuan sepeda bagi anak2 SMP di daerah Yogyakarta yang tidak mampu untuk membayar biaya transportasi ke sekolahnya. Pemberian sepeda tersebut diharapkan dapat menolong sehingga mereka tak lagi harus berjalan kaki sejauh 3 km ke sekolahnya atau mengeluarkan uang sebesar 10-20.000/harinya. Melakukan kegiatan ini memang menyenangkan. Berbuat amal dan selanjutnya terserah anda...
Setelah bakti sosial selesai, seharusnya saya segera pulang dan membuat janji dengan Mbak O, lalu membuat revisi outline (ya..ya..ya..saya masih pada tahap REVISI OUTLINE! bukan revisi Bab I, II, III, seperti teman seangkatan sejurusan saya pada umumnya), dan menyerahkannya pada Bang Z (tanpa Meggi di depannya). Tapi yang seharusnya itu, tidak saya lakukan. Ada yang lebih menggoda saya, melakukan perjalanan sepuas-puasnya, sehabis-habisnya uang, dan sesenang-senangnya diri saya hingga melupakan semua kekejaman tugas akhir yang dapat menentukan masa depan.

Sebenarnya saya bukan jenis mahasiswa yang santai saja lulus semester berapa pun tidak ada beban. Justru saya sangat berbeban. Dua kejadian yang membuat saya berbeban:
Setahun lalu saya menjenguk bulang (sebutan kakek di orang Karo, kakek dari bapak) yang sedang sakit. Umurnya sudah 80an, jadi hingga sekarang ia masih sakit2an. Waktu itu sakitnya parah, dan ketika saya bilang bulang sehat2 ya... Beliau menjawab : Iya, kapan kamu lulus Put? Tahun depanlah bulang (ketika itu saya sangat yakin-seyakin2nya bahwa tubuh saya berisi 99% semangat untuk segera melepaskan diri dari cengkeraman kampus) Tahun depan ya, saya tidak akan mati dulu sebelum kamujadi sarjana tahun depan ya. (Jeng...jeng...jeng...jeng...saya shock mendengarnya)

Tolong...Jangan sampai Bulang saya pergi sebelum saya lulus jadi sarjana. Lebih baik saya dituntut sekarang daripada dituntut dari dunia akherat. Setiap malam saya berdoa untuk kesehatan bulang saya.
Kemarin pas saya pulang kampung. Lagi-lagi opung saya sakit2an (nenek dari ibu). Ketika saya mau pulang pertanyaannya satu.
"Puteri, kapan kau diwisuda pahopuku (pahopu=cucu)?"
Karena saat itu masih awal bulan Januari, saya yang tubuhnya masih terisi oleh 75% semangat menjadi Sarjana, bilang Ya, tahun inilah opung, bulan 6. Opung saya senang bukan main. Nanti datang opung ya bulan 6. Tunggu opung di Jakarta. Pahopuku jadi Sarjana...Cari kerja, bantu mamak kalau sudah lulus. Dan dilanjutkan oleh beberapa wejangan lain, yang berupa wejangan bukan untuk mahasiswa tapi wejangan untuk Sarjana siap kerja.
Jika mengingat momen2 tadi, rasanya ingin memutar waktu dan menutup mulut besar saya!! sampai saat ini saya belum menyiapkan kata2 yang pas untuk mengagalkan niatnya menempuh perjalanan Pematang Siantar – Jakarta demi melihat saya diwisuda.
Terkadang untuk membenarkan pilihan saya, saya berpikir hidup ini jangan terlalu ngoyo. Sebagai manusia saya harus menjelajahi semua pilihan-pilihan, semua kemungkinan-kemungkinan agar tidak membuat saya mentok dan tidak berkembang. Ketika saya tidak berhasil menempatkan diri pada jalur cepat untuk lulus, saya percaya di jalur lambat saya akan menemukan kejadian-kejadian baru yang belum pernah saya temui selama saya berjalan. Mungkin di jalur lambat saya mesti berbalik arah sebentar, berbelok, melewati jalur tikus, atau berhenti di lampu merah, tapi saya harap kejadian-kejadian tersebut membuat saya semakin sabar, semakin matang karena membuat saya melalui beberapa hal yang belum pernah saya alami selama 4 tahun saya berjalan. (hehehe... bukankah pembenaran saya terkesan sangat benar...)

Dan ketika akhirnya saya memilih menghabiskan 2minggu saya untuk backpacking di Jogja, Surabaya, Gresik, Malang, saya sangatlah puas tiada tara. Memang sepertinya saya menjual waktu saya bukan untuk hal yang besar. Tapi menurut saya tidak perlu hal yang besar untuk membuat saya matang, dan tidak perlu takut untuk tidak matang karena mencoba hal kecil. Semua peristiwa hidup pasti punya makna dan tujuan... (hahaha...rasanya saya semakin jago dalam membenarkan ketidak beruntungan saya dalam hal akademis)

Entah saya harus berterima kasih pada Bang Z atau memaki atas pilihan saya berbesar hati menerima jalur yang lambat entah akan selambat apa. Yang jelas hingga sekarang saya masih NGGAK HABIS PIKIR...

GILA YA... ANDA SUDAH BIKIN SAYA PATAH ARANG TAU NGGAK SEH!!! MEMBUAT OPUNG SAYA SEDIH DAN BULANG SAYA TIDAK TENANG!!! MENYERAP SEMUA SEMANGAT SAYA UNTUK KELUAR DARI CENGKERAMAN KEKEJAMAN DUNIA AKADEMIS!! MENGHISAP SEMUA KEKUATAN DAN INTELEKTUALITAS SAYA UNTUK TUNDUK SAMA PAKEM2 KOMUNIKASI YANG ANDA CIPTAKAN SENDIRI!!! ANDA PUAS??!! PUAS??!! PUAAAAASSS???!!

Anyway, Ehm.. saya berterimakasih atas dibuatnya blog ini. Sepertinya saya akan memakai blog ini untuk terus mengupdate pembenaran diri saya dalam memilih jalur lambat akibat tirani seorang kajur.

(ditulis oleh biar_lambat_asal_selamat, perempuan, hampir 22 tahun, inisial namanya sama dengan singkatan kelompok komunis Indonesia.)

Birokrasi Sialan!!

Ternyata ga Cuma ngurus KTP, SIM, Kartu Keluarga, Visa, dkk yang harus berbenturan dengan birokrasi. Ngurus skripsi juga berhubungan (sangat berhubungan) dengan birokrasi dan tetek bengek lainnya.

Heran kenapa sih system hobi banget bikin susah orang, khususnya mahasiswa tingkat akhir yang udah jenuh mikirin skripsi. Ga seneng ya liat orang jalannya mulus2 aja, demen banget sih ngehambat kemajuan orang lain. Padahal kalau kita sukses yang diuntungkan nanti kan bangsa dan Negara ini juga. Yang dimana efeknya sedikit banyak akan dirasakan oleh semua system, mulai dari tingkat jurusan, RT, RW, Perusahaan-perusahaan, dll.

Tahapan-tahapan kronologis birokrasi yang harus dilewati mahasiswa, yaitu:

1. Nulis permohonan surat-surat keterangan di buku besar Mas Gugi di jurusan selengkap-lengkapnya. DIJANJIKAN selesai dalam waktu 3 hari. Perlu dicatat 3 hari disini tidak dihitung berdasarkan putaran bumi, tapi putaran Jupiter. LAMA!! Banyak alasan-alasan keterlambatan sebuah surat jadi. Alasan favorit: sibuk!
2. Setelah surat jadi, HARUS ditandatangani ketua jurusan. Ini jangka waktunya tergantung keberuntungan si mahasiswa. Kalo lagi untung saat itu juga tanda tangan diraih. Jika nasib sial sedang melanda, datanglah lagi keesokan hari untuk menanti si tanda tangan.
3. Memberikan surat ke orang/instansi/perusahaan yang dituju. Disini surat anda akan bergerak ke sana kemari. Masuk dari satu nomor fax ke fax lain, lalu dikirim lagi ke nomor fax yang lain lagi, demikian seterusnya.
4. sementara surat keterangan anda bergerak tak tentu arah, anda DIHARUSKAN mem-follow up orang yang terkait dengan surat anda tadi. Terus kejar serta ingatkan dia. Siapa tau dia lupa dan surat anda ternyata ikut terbuang bersama kertas pembungkus gado-gado makan siangnya. Atau siapa tau surat anda tergeletak begitu saja di meja seseorang yang sedang “dinas” keluar dan segera tertumpuk oleh kertas-kertas tidak berharga lainnya. Jadi begitu si orang tadi kembali dari dinas luarnya yang menjenuhkan dan melihat tumpukan kertas yang memusingkan, niscaya dengan segera dia akan segera membuang tumpukan kertas tadi + surat keterangan anda yang didapat dengan susah payah ke tempat sampah. Jadi, setialah mem-follow up pergerakan surat tadi.
5. begitu akhirnya anda mendapatkan waktu untuk bertemu, jangan terlalu jumawa. Waktu yang tersedia untuk anda biasanya jauh lebih singkat daripada waktu yang mereka sisihkan untuk makan siang. Karena mereka mempunyai banyak janji2 lain yang lebih penting daripada anda.

Yah, itu hanya sebagian kecil proses birokrasi yang ada. Kenyataannya lebih berbelit2 daripada apa yang tertulis di atas. Kalau anda bisa melihat saya sekarang, mengetik dengan pakaian rapih, siap melakukan wawancara, eh ternyata si narasumber belum mendapatkan si surat tadi. Jadi, karena saya sudah terlanjur berucap kepada orang tua bahwa hari ini saya ada janji temu wawancara, maka dengan kesal, malu, dan sedikit tidak enak hati, saya mengatakan bahwa janji tersebut batal. Dan saya sekarang dengan wajah tekun mengetik di depan komputer. Seakan-akan untuk kemajuan mahluk bernama skripsi tapi sebenarnya hanyalah untuk melampiaskan sesal saya lewat curhat colongan di blog ini.

(lagi-lagi ditulis oleh Juwita Sirik. heran, rajin amat sih? Pantes skripsinya nggak kelar-kelar... - dibaca dengan nada nyinyir khas ibu-ibu yang senang bergunjing.)

Skripsi, Penyakit bagi hati

Keberadaan blog ini sungguh merupakan buah simalakama untuk saya. Ga dibuka kok penasaran. Eh, kalo dibuka buntutnya keterusan, bahkan sekarang saya ikut2an menulis untuk blog ini. Sungguh suatu perbuatan biadab.

Skripsi itu buat saya sungguh suatu hal yang sangat kompleks, abstrak tapi nyata. Efek negatifnya setelah saya hitung2 lebih banyak daripada efek positifnya. Merusak hari-hari, merusak interaksi social, mengganggu napsu makan (eh, ini efek positif deh), dan yang terparah membuat hati berulat.

Bagaimana tidak berulat, lihat si anu sudah mulai mengerjakan bab 3 sirik, lihat si ini bikin surat pengantar wawancara di jurusan iri, lihat si itu terjun ke lapangan untuk bagi-bagi pretest dengki. Memang susah untuk berbesar hati disaat-saat sulit seperti ini.

Bahkan sindrom terparah yang saya alami saat ini adalah halusinasi. Alam pikiran saya berkelana kemana-mana, terus menduga-duga. si “A” lama ga keliatan jangan2 lagi sibuk di perpus ngumpulin bahan, atau lagi bikin operasionalisasi konsep, atau udah jadi lagi kuisionernya, atau jangan2 dia udah nyebar kuisioner lagi, atau.. (Huh!). Si “B” kalo ditelepon ke rumah ga pernah ada, jangan2 dia lagi pergi ke perpus salemba, atau jangan2 dia lagi bimbingan untuk yang kesekian kalinya, atau jangan2 dia lagi wawancara informan, atau..( banyak lagi pikiran2 imajinatif lainnya)

Susah untuk tetap tenang dan memfokuskan pikiran pada skripsi saya sendiri. Melihat orang2 yang kemajuannya begitu dasyat saya seakan-akan semakin dikejar deadline yang rasanya berlari siap menerkam saya.

Satu kutipan dari teman yang dengan gilang gemilang dan tanpa disangka2 berhasil merampungkan masa kuliah HANYA 3,5 tahun, yang sungguh menjadi penguat saya dalam mengerjakan skripsi

“Gue cuman ngerjain skripsi gue satu bulan satu minggu. Dalam jangka waktu lo
yang ada sekarang gue bisa bikin dua skripsi.

Entah dia bercanda atau sungguh-sungguh dalam berujar seperti itu, tapi itu sekarang benar-benar menjadi satu impian yang manis buat saya.

(ditulis oleh Juwita Sirik)